Waktunya Juventus Naik Kelas

Waktunya Juventus Naik Kelas

Melihat performa saat ini, siapa bisa hentikan Juventus? Bahkan Barcelona –dengan Trio MSN-nya– pun dibuat tak berkutik. Eropa, inilah kekuatan barumu.

Memang, Juve pernah menjuarai kompetisi tertinggi antarklub Eropa. Malah dua kali. Tapi yang terakhir sudah sangat lama, yaitu musim 1995-1996. Beberapa tahun belakangan ini, Liga Champions didominasi oleh tim-tim Spanyol dan Jerman.

Maka ketika Juve sukses menyingkirkan Barca di babak perempatfinal Liga Champions musim ini, tak sedikit yang menyebut kalau ini adalah waktu mereka untuk naik ke puncak tertinggi: juara. Apalagi satu raksasa Eropa lainnya, Bayern Munich, juga sudah terdepak.

Lolos ke semifinal, Juve akan menghadapi AS Monaco. Laga semifinal lainnya mempertemukan Real Madrid dengan Atletico Madrid. Melihat tim-tim yang tersisa di babak empat besar, Juve harusnya tak perlu merasa ciut.

Duel dengan Barca di babak perempatfinal adalah bukti bahwa Juve tidak takut kepada siapapun. Sekalipun itu Barca yang punya (salah satu) trisula penyerang paling maut di dunia. Barca tak sedikitpun membuat Gianluigi Buffon dkk. keder.

Leg pertama di Turin dimenangi Juve dengan meyakinkan. Barca dihajar tiga gol tanpa balas.

Hasil di Turin membuat Barca mengusung misi comeback di leg kedua. Apalagi mereka berpengalaman dalam membalikkan keadaan. Paris Saint-Germain yang unggul 4-0 dari leg pertama saja bisa balik dikalahkan. Apalagi Juve yang ‘hanya’ unggul tiga gol.

Psywar pun dilontarkan kubu Barca jelang duel leg kedua di Camp Nou. Para penggawa Blaugrana optimistis comeback luar biasa seperti saat melawan PSG bisa terulang. Entrenador Barca, Luis Enrique, bahkan menyebut timnya bisa mencetak empat gol ke gawang tim manapun.

“Kami pernah melakukannya (comeback) sekali dan kami bisa melakukannya untuk kedua kali. Kami harus mengerahkan segalanya semaksimal mungkin. Kalau semuanya berjalan lancar, akan ada comeback lainnya,” demikian kata Neymar memperingatkan Juve.

Tapi Juve bukanlah PSG. Juve, dengan pertahanannya yang tangguh, sekali lagi memandulkan Barca. Tekanan puluhan ribu suporter di Camp Nou tak sedikitpun membuat Juve goyah. Mereka tampil solid dan meraih hasil 0-0 untuk menyegel satu tempat di babak semifinal.

Jika boleh membandingkan, mental lah yang jadi pembeda antara Juve dan PSG. Massimiliano Allegri tak pernah sedetikpun membiarkan timnya berpikir bahwa posisi mereka sudah aman dengan kemenangan 3-0 di Turin. Usai pertandingan leg pertama, Allegri bahkan sudah membidik gol di Camp Nou. Bukan karena takut kebobolan, hanya untuk memastikan bahwa posisi Juve benar-benar aman.

“Kami harus menyingkirkan apa yang terjadi di leg pertama dari kepala kami. Kami menganggap bahwa tak ada kesempatan kedua setelah laga ini dan kejernihan pikiran itu penting, karena kami butuh kepala dingin untuk membaca permainan di berbagai titik,” ucap Allegri jelang laga leg kedua melawan Barca.

“Yang penting adalah kami ada dalam pertandingan selama 95 menit dan secara teknik memainkan permainan yang kuat. Anak-anak tahu apa yang harus dilakukan, ini sangat sederhana. Mereka harus bertahan dan menyerang dengan baik. Titik.”

Bukan cuma pertandingan Barca melawan PSG yang jadi pengingat untuk Juve. Soal mewaspadai comeback lawan, Bianconeri sudah dapat alarm peringatan di babak semifinal Coppa Italia. Setelah menang 3-1 atas Napoli di Turin, Juve tetap mengincar gol di San Paolo. Dua gol yang dicetak Gonzalo Higuain di markas Napoli terbukti menyelamatkan Juve. Meski kalah 2-3, Juve berhak lolos ke final dengan keunggulan agregat 5-4.

“Ini bukti bahwa sepakbola tidak bisa diprediksi. Kami punya 95 menit untuk merebut tempat di semifinal. Penting untuk diingat bahwa lolos atau tidak itu ditentukan usai peluit akhir, bukan setelah 20 menit atau saat pergantian babak,” kata Allegri.

“Paris Saint-Germain berpikir sudah selesai, dan nyatanya tidak. Kami pikir melawan Napoli di semifinal Coppa Italia sudah selesai dan kami juga berisiko kehilangan itu.”

Memandulkan Barca selama 180 menit adalah sebuah pencapaian yang patut diapresiasi. Apalagi Barca tergolong tim yang sangat produktif.

Trisula Lionel Messi, Luis Suarez, dan Neymar saja –sampai sebelum laga leg kedua melawan Juve– total sudah mencetak 92 gol untuk Barca di semua kompetisi musim ini. Di Liga Champions, Barca juga produktif dengan mencetak total 26 gol dalam delapan laga mulai fase grup sampai babak 16 besar.

Tapi Juve mampu meredamnya. Mereka membuat Barca mandul; bukan cuma satu kali, tapi dua kali. Itu adalah sebuah catatan yang sebelumnya hanya mampu dibuat oleh Manchester United (2007/2008) dan Bayern Munich (2012/2013).

Barca sudah, lalu selanjutnya apa? Dengan level performa seperti ini, Juve boleh saja bermimpi soal gelar juara Liga Champions. Tapi, bukan Juve namanya kalau sudah puas dengan apa yang sudah dicapai sejauh ini.

“Saya senang dengan apa yang ditampilkan anak-anak, tapi kuncinya adalah bukan mempertahankan performa saat ini, tapi berusaha untuk mengembangkannya,” ujar Allegri setelah Juve menyingkirkan Barca.

Ya, Allegri sekali lagi menekankan bahwa Juve belum sampai garis finis. Mental seperti inilah yang akan mampu membawa Juve melangkah sejauh mungkin di semua kompetisi yang mereka jalani.

AS Monaco bersama Kylian Mbappe yang sedang meroket akan jadi ujian berikutnya untuk Juve di babak semifinal. Ini akan jadi duel antara tim dengan lini serang spektakuler dan tim dengan barisan pertahanan yang solid.

Seperti yang sudah-sudah, Juve tak perlu (dan tak akan) takut dengan siapapun lawan yang mereka hadapi. Pertandingan melawan Barca sudah membuktikannya.

Lini belakang yang solid sudah tentu akan jadi modal utama Juve. Setelah menyingkirkan Barca, gawang Juve tercatat sudah tak kemasukan gol selama 531 menit, atau sekitar 9 jam 25 menit. Tapi perlu diingat pula bahwa Juve juga tak kalah bagus di lini depan. Gonzalo Higuain, Mario Mandzukic, Juan Cuadrado, dan Paulo Dybala adalah nama-nama yang patut ditakuti.

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply