Umpan Silang Mendatar yang Diandalkan Manchester City

Umpan Silang Mendatar yang Diandalkan Manchester City

Manchester City pun menggunakan pendekatan strategi yang tak jauh berbeda. Setiap serangan yang mereka ancarkan selalu dilancarkan ke sayap. Umpan-umpan silang pada Sergio Aguero dan salah satu dari kedua sayap yang ada di kotak penalti menggambarkan skema serangan Manchester City pada laga ini.

Jika Liverpool mencatatkan 19 umpan silang, City melakukannya lebih banyak, yakni 23 kali. Tak hanya Leroy Sane dan Raheem Sterling (dua winger City pada laga ini) yang bertugas mengirimkan umpan silang, tapi juga Kevin De Bruyne yang sejatinya ditempatkan sebagai gelandang tengah. Bahkan gelandang asal Belgia ini menjadi pemain dengan umpan silang terbanyak, melakukan 12 kali. Dan mayoritas umpan silang yang dilakukan De Bruyne dilakukan di sisi sebelah kanan, atau kiri pertahanan Liverpool.

Pada laga ini, Manchester City menciptakan 14 peluang tembakan, jumlah yang sama dengan Liverpool. Namun sebenarnya peluang City lebih banyak dari 14 tembakan tersebut. Karena sangat banyak peluang City mencetak gol melalui umpan-umpan silang yang gagal disambut dengan baik oleh pemain City yang berada di kotak penalti (sehingga tidak terhitung sebagai attempts atau percobaan tembakan).

City memang begitu mengandalkan umpan silang pada laga ini. Namun Pep sadar dengan Sergio Aguero yang tak memiliki postur tubuh yang besar, umpan silang lewat udara akan membuatnya kesulitan mendapatkan peluang, terlebih Liverpool pada akhirnya memenangkan 17 duel udara berbanding sembilan milik City pada laga ini. Maka yang dilakukan oleh pengirim-pengirim umpan silang adalah meluncurkan bola dengan deras menyusur tanah.

Sejumlah peluang terbuka tercipta lewat skema ini. Dimulai dari peluang Aguero, Sterling, hingga peluang Fernandinho yang juga memiliki kesempatan mencocor bola hasil umpan silang mendatar. Namun hanya satu gol saja yang berhasil dilesakkan City melalui skema ini, ketika umpan De Bruyne dimanfaatkan dengan baik oleh Aguero.

City juga memanfaatkan serangan sayap ini untuk menaklukkan lini pertahanan Liverpool yang memainkan garis pertahanan tinggi, dilakukan juga untuk mendukung gegenpressing. Pada awal-awal laga, City sempat kesulitan karena upaya serangan sayap mereka selalu terperangkap offside. Namun perlahan-lahan, City mulai menemukan ritme permainan dan memanfaatkan lambatnya pemain-pemain bertahan Liverpool (terkecuali Clyne di sisi kanan).

Liverpool juga lambat laun mulai kewalahan di sisi kiri. Yang terlihat adalah Milner yang tampak berjuang sendirian ketika serangan City sudah memasuki sepertiga pertahanan Liverpool. Pada laga ini, pemain yang sebelumnya membela City ini melakukan sembilan upaya tekel, namun hanya dua saja yang berhasil. Catatan lainnya adalah ia melakukan lima sapuan pada laga ini, tanpa sekalipun melakukan intercept.

Kewalahannya Liverpool, khususnya Milner, terjadi karena City menyerang ke sayap kanan melalui lini tengah terlebih dahulu. Di sana terdapat Yaya Toure dan David Silva yang bertugas memindahkan arah serangan. Sementara ketika bola di tengah, gelandang tengah Liverpool harus menutup dan berusaha merebut bola tersebut, atau menjaga area depan kotak penalti. Akhirnya ketika bola dialihkan ke sayap, gelandang-gelandang tengah Liverpool kerap terlambat membantu Milner. Pada saat gol terjadi, Milner pun harus sendirian menghadapi De Bruyne.

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply