Spurs berpotensi terlempar dari Zona Eropa

Tanya kepada pendukung Tottenham Hotspur tentang penampilan Spurs musim lalu, apakah mereka puas atau kecewa? Umumnya mereka sangat puas, tapi pada akhirnya kecewa. Seperti suratan takdir, Spursy sekali.

Spurs menduduki peringkat ketiga di klasemen akhir Liga Primer Inggris. Ini adalah finis terbaik mereka sepanjang sejarah Liga Primer. Seharusnya mereka bangga.

Namun, mereka kembali harus berada di bawah rival terbesar mereka, Arsenal. Sebenarnya bukan finis di bawah Arsenal yang membuat para pendukung Spurs kesal, melainkan cara mereka tergeser dari posisi runner-up liga di laga-laga terakhir.

Sepanjang musim lalu, The Lilywhites memulai liga dengan lambat. Tapi selang beberapa bulan, mereka berhasil memenangi 20 pertandingan dan hanya kalah 3 kali saja.

Penampilan mereka musim lalu secara umum menunjukkan penampilan laiknya sebuah kesebelasan juara. Ya, untuk pertama kalinya, musim lalu Spurs menjadi kandidat juara liga. Jika bukan karena Leicester City, mungkin Spurs sudah menjadi kandidat paling kuat untuk juara di saat banyak kesebelasan langganan papan atas sedang “sakit flu”.

Banyak hal menarik yang membuat Spurs bisa tampil gemilang musim lalu. Kita bisa menyebut mulai dari kejeniusan taktik Mauricio Pochettino, Harry Kane yang berhasil memenangkan gelar sepatu emas (pencetak gol terbanyak), Bamidele Alli yang tampil apik, Hugo Lloris yang cekatan di bawah mistar gawang, Toby Alderweireld yang konsisten di lini belakang, Christian Eriksen yang memanjakan rekan-rekannya dengan umpan-umpannya, dan banyak alasan lainnya.

Spurs adalah satu-satunya kesebelasan yang mampu memberikan perlawanan sengit kepada Leicester (karena sejujurnya Arsenal tidak, meskipun The Gunners pada akhirnya bertengger di posisi kedua) sampai pada empat pertandingan terakhir di liga.

Di empat pertandingan terakhir, Spurs seperti kehilangan arah. Mereka bermain imbang dengan West Bromwich Albion dan Chelsea (yang memastikan gelar juara Leicester) di mana Alli dan Moussa Dembele mendapatkan larangan bermain, bahkan Dembele masih harus absen dalam empat pertandingan pertama musim 2016/17. Tanpa Alli dan Dembele, Spurs kalah dari Southampton dan kemudian dibantai Newcastle United yang sudah terdegradasi.

Dari kisah di atas, kita bisa sama-sama mengambil pelajaran bahwa Spurs merupakan kesebelasan yang menjanjikan, baik dari segi taktikal maupun rata-rata usia pemain yang masih muda.

Sementara masalah yang kelihatan dari perjalanan mereka musim lalu adalah mereka tidak memiliki kedalaman skuat yang memenuhi spesifikasi untuk memainkan taktik Mauricio Pochettino dan juga sekaligus Pochettino yang tidak memiliki rencana cadangan yang sesempurna rencana utamanya. Pastinya, saat ini Mauricio Pochettino sudah sadar akan beberapa hal di atas.

20 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply