Simone Rota, Mimpi, dan Asal-Usul

Simone Rota, Mimpi, dan Asal-Usul

Ada jarak yang bisa jadi amat jauh antara mimpi dan asal-usul. Asal-usul adalah tempat keberangkatan kita, sementara mimpi adalah tempat tujuan. Kadang bisa dicapai, kadang tidak.

Beruntunglah Simone Rota, ia mengaku kini tengah menjalani mimpinya. Sebagai seorang pesepakbola, menjadi bagian dari tim nasional negaranya adalah kebanggaan tersendiri. Dan buat Rota, menjadi pemain tim nasional itu adalah mimpinya.

Sampai hari ini, sudah lebih dari dua tahun Rota berstatus sebagai penggawa timnas Filipina. Sejak menjalani debutnya pada Februari 2014, pemain berusia 31 tahun tersebut sudah mengantongi 21 caps untuk The Azkals. Untuk mimpi yang menjadi nyata itu, Rota layak berterima kasih kepada Thomas Dooley, pelatih timnas Filipina yang tertarik melihat permainannya saat membela tim UFL (Liga Sepakbola Filipina), Stallion FC.

“Membela Filipina adalah mimpi buat saya, dan rasanya saya sekarang hidup di dalam mimpi itu,” ujar Rota kepada ESPNFC.

Rota tengah menikmati kehidupannya bersama Stallion dan timnas Filipina. Di Stallion, ia mendapatkan pelatih yang dengan gigih berpegang pada prinsip mengembangkan bakat-bakat terbaik Filipina. Pelatih itu, Ernie Nierras, disebut Rota berhasil membangun Stallion layaknya sebuah keluarga besar. Sebuah kebanggaan tersendiri, kendati dalam dua musim terakhir, Stallion sulit untuk tampil konsisten.

Di timnas, ada Dooley. Dengan Piala AFF yang sudah ada di depan mata –bergulir pada November mendatang– Filipina tengah bersiap. Apalagi, seperti dikatakan Rota, Filipina tidak berada dalam grup yang mudah –meskipun Filipina berstatus sebagai tuan rumah grup tersebut. Tergabung di Grup A, Filipina harus bersaing dengan Singapura, Thailand, dan juga Indonesia.

“Coach Dooley menanamkan mentalitas kuat dalam diri kami. Ketika kami masuk ke lapangan, kami menaruh respek pada lawan. Namun, kami tidak akan pernah terintimidasi oleh tim lawan,” ucap Rota, yang kini tengah menjalani pemulihan cedera lutut. Ia berharap masih bisa masuk skuat Filipina untuk Piala AFF 2016.

Cerita Rota menjadi pesepakbola yang mimpinya terwujud adalah ending dari cerita ini, tapi bagaimana perjalanan Rota menggapai mimpinya itu adalah kisah yang sesungguhnya. Kisah yang melibatkan juga asal-usulnya.

Suatu hari pada 1984, Rota yang masih berusia dua bulan dititipkan di sebuah panti asuhan bernama Buklod Kalinga di kawasan ParaƱaque, sebelah barat Teluk Manila dan berada di bagian selatan Metro Manila. Rota bayi kemudian dirawat oleh Suster Flora Zippo.

Menurut penuturan Suster Flora, Rota diantarkan ke panti asuhan oleh seorang wanita bernama Sonia Tulay. Ketika Rota berusia enam bulan, ia diadopsi oleh pasangan asal Italia. Mereka kemudian hidup dan tinggal di Milan.

Di Italia-lah Rota pertama kali mencicipi sepakbola. Pada usia 17 tahun, ia sudah bergabung dengan klub Serie C, SSD Pro Sesto. Sepuluh tahun lamanya ia bermain untuk Pro Sesto, sebelum akhirnya pindah ke Swiss untuk memperkuat FC Lugano. Ketika akhirnya ia kembali ke Italia, Rota menemukan bahwa klub lamanya itu sudah bangkrut dan tawaran dari Stallion pun datang.

Namun, bukan lantaran Pro Sesto sudah bangkrut ia menerima tawaran Stallion. Rota masih merasa ada urusan yang “belum selesai” dengan hidupnya. Filipina adalah negara asalnya, tempat dia dilahirkan, dan kemungkinan besar tempat hidup orang tua kandungnya sampai saat ini.

“Oleh karena itulah saya memutuskan untuk datang ke sini. Pertama, karena ini adalah negara saya.”

Rota memilih untuk tinggal di Buklod Kalinga. Panti asuhan asal-usulnya. Selain tinggal, ia juga membantu Suster Flora dan Suster May mengurus anak-anak yang tinggal di sana. Bagi Rota, ini adalah caranya untuk mengapresiasi orang-orang yang merawatnya dahulu.

“Hidup saya di sini. Semua sudah seperti keluarga sendiri buat saya. Dan saya ingin memberikan sesuatu kepada anak-anak dan Suter May, jika mereka membutuhkan bantuan,” ucap Rota.

Lalu, bagaimana dengan orang tua kandungnya? Rota awalnya mengaku sempat ragu untuk bertemu dengan mereka, tapi sekarang sudah siap untuk mendengar semuanya. Ia juga sudah berbicara langsung kepada orang tua yang mengadopsinya perihal pilihan hidupnya itu. “Dan mereka setuju mengenai keputusan saya untuk mencari orang tua kandung saya karena mereka adalah bagian dari hidup saya,” ujar Rota seperti dilansir ABS-CBN News.

Sampai saat ini, usaha Rota belum menemui hasil. Lewat dokumen pengadopsiannya, ia berusaha untuk mencari orang tua kandungnya hingga ke berbagai wilayah di Filipina, mulai dari Cavite, Cebu, hingga Camarines Sur.

“Saya ingin bertemu supaya saya paham mengapa mereka menyerahkan saya. Saya ingin tahu situasi seperti apa yang membuat mereka menyerahkan saya supaya saya diadopsi. Saya juga ingin berterima kasih kepada mereka karena telah memberikan kesempatan terbesar dalam hidup saya untuk menemukan keluarga baru dan mendapatkan kehidupan yang layak,” kata Rota.

Informasi pun disebar. Mereka yang memiliki informasi mengenai orang tua Rota diminta langsung menghubungi Suster May ataupun mengontak langsung panti asuhan Buklod Kalinga.

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply