Sejarah dan Kutukan bagi Sang Juara di Piala Konfederasi

Piala Dunia berikutnya di Rusia baru akan bergulir pada 2018 mendatang. Artinya para pecinta sepakbola di seluruh penjuru dunia masih harus menunggu selama satu tahun lagi untuk menikmati suguhan pertandingan berkualitas di turnamen antarnegara itu. Kendati demikian, gaung perhelatan Piala Dunia 2018 sudah terasa sejak satu tahun sebelum kejuaran tersebut diselenggarakan. Sebab pada pertengahan Juni 2017 ini akan digelar turnamen antarnegara bertajuk Piala Konfederasi.

Sama halnya dengan Piala Dunia 2018, Piala Konfederasi 2017 juga akan diselenggarakan di Rusia, dengan kota-kota penyelenggara yang juga akan digunakan di Piala Dunia 2018 nanti. Hal tersebut dikarenakan Piala Konfederasi merupakan ajang untuk melihat sejauh mana kesiapan Rusia sebagai tuan rumah Piala Dunia 2018. Atau bisa dibilang juga sebagai ajang pemanasan sebelum bergulirnya Piala Dunia.

Meski saling berkorelasi, namun Piala Konfederasi dan Piala Dunia memiliki perbedaan baik dari segi konsep kejuaraan. Piala Dunia merupakan ajang yang bisa diikuti oleh semua negara anggota FIFA, dengan catatan mampu lolos dari babak kualifikasi sebelum tampil di putaran final.

Sementara Piala Konfederasi, sesuai dengan namanya peserta dari ajang tersebut dikhususkan bagi para juara dari seluruh konfederasi FIFA yang antara lain adala UEFA (Eropa), CONMEBOL (Amerika Selatan), CONCACAF (Amerika Utara, Tengah, dan Kepulauan Karibia), CAF (Afrika), AFC (Asia), dan OFC (Oseania), plus tim tuan rumah, serta juara Piala Dunia sebelumnya.

Menarik melihat konsep turnamen Piala Konfederasi yang mepertemukan para juara dari berbagai belahan dunia dalam satu ajang. Merunut sejarahnya, Piala Konfederasi mulai bergulir pada tahun 1992 silam. Meski begitu, inspirasi dari terselenggaranya Piala Konfederasi sebenarnya sudah ada sejak tahun 1980, saat Kejuaraan Mundialito di Uruguay digelar.

Hal yang membuat Mundialito dianggap sebagai inspirasi dari terselenggaranya Piala Konfederasi, karena kejuaran tersebut memiliki konsep mempertemukan para juara dalam satu turnamen. Bedanya, turnamen yang disebut sebagai “Piala Dunia mini” itu mewadahi tim-tim yang pernah menjadi juara Piala Dunia pada lima edisi sebelumnya. Sementara Piala Konfederasi memiliki konsep untuk mempertemukan para juara dari seluruh konfederasi FIFA.

Embrio dari terselenggaranya Piala Konfederasi baru muncul pada tahun 1992. Tepatnya di Arab Saudi melalui turnamen bertajuk Piala Raja Fahd (King Fahd Cup). Meski begitu kejuaraan tersebut hanya mengundang para juara dari konfederasi AFC, CONMEBOL, CONCACAF, dan CAF. Saat itu Argentina keluar sebagai juara usai menundukkan tuan rumah Arab Saudi 3-1.

Pada penyelenggaraan kedua, yaitu pada tahun 1995, Piala Raja Fahd mulai mengundang wakil dari konfederasi UEFA untuk ikut ambil bagian. Saat itu UEFA diwakili oleh Denmark sebagai juara Piala Eropa tahun 1992. Berstatus sebagai debutan tak membuat Denmark ciut nyali, buktinya mereka sukses menjadi juara setelah mengalahkan Argentina 2-0 di partai final.

Memasuki penyelenggaraan ketiga, tepatnya pada tahun 1997, perubahan mulai dilakukan, setelah FIFA mengambil alih pengelolaan kejuaraan tersebut. Tajuk Piala Raja Fahd kemudian diganti menjadi Piala Konfederasi, peserta pun bertambah dari Konfederasi OFC yang diwakili oleh Australia.

Meski begitu penyelenggaraan tetap berlangsung di Arab Saudi dengan tempat utama di Stadion Raja Fahd. Saat itu Brasil keluar sebagi juara setelah menundukkan Australia enam gol tanpa balas di partai final.

Pada tahun 1999, Piala Konfederasi kemudian beralih dari Arab Saudi ke Meksiko. Pada penyelenggaraan tersebut untuk menyemarakkan turnamen, FIFA menambah kuota peserta hingga genap menjadi delapan kesebelasan. Kuota tersebut diberikan kepada juara Piala Dunia tahun sebelumnya, saat itu Prancis berhak ikut ambil bagian karena mereka adalah juara Piala Dunia 1998.

Sayang, Prancis menolak untuk ikut serta, dengan alasan kondisi fisik pemain yang tak memungkinkan bertarung di ajang tersebut. Posisi Prancis kemudian digantikan Brasil sebagai runner-up Piala Dunia 1998. Namun karena pada saat itu Brasil juga berstatus sebagai juara Copa America, maka Bolivia yang merupakan runner-up Copa America kemudian ditunjuk sebagai wakil CONMEBOL. Dalam gelaran tersebut, gelar juara menjadi milik Meksiko yang sukses menumbangkan Brasil dengan skor 4-3 di partai puncak.

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply