Menanti Sejarah Tercatat di Rajamangala

Menanti Sejarah Tercatat di Rajamangala

Katanya hal-hal terbaik dalam hidup kita datang pada momen yang tak dikira-kira. Kalau itu boleh terjadi hari ini, maka Stadion Rajamangala bisa jadi tempat bersejarah untuk (sepakbola) Indonesia.

Sebelum Piala AFF dimulai, rasanya tak banyak yang meyakini Indonesia akan melangkah jauh sampai ke final.

Apa yang bisa diharapkan dari sebuah timnas yang negaranya 567 hari silam dijatuhi sanksi oleh FIFA dan baru dapat pengampunan baru tujuh bulan lalu? Rasanya memang tak banyak yang bisa diharapkan dari sebuah timnas yang berangkat ke turnamen namun tidak diizinkan membawa pemain-pemain terbaiknya – lantaran klub hanya mau melepas dua pemainnya hanya demi gengsi di kompetisi domestik.

Skuat Garuda berangkat dengan kondisi seadanya. Karena liga domestik juga tak berputar dalam situasi normal, pemain diragukan berada dalam kondisi terbaiknya secara fisik. Terlebih pertandingan kompetitif terakhir yang dijalani Timnas Indonesia adalah pada Piala AFF 2014.

Persiapan yang dipunya pun tak panjang. Riedl, yang ditunjuk kembali untuk kali ketiga sebagai pelatih timnas pada Juni lalu, cuma punya empat pertandingan ujicoba sebelum ke Piala AFF. Kemalangan Timnas Indonesia bertambah setelah Irfan Bachdim mendapat cedera hanya beberapa hari sebelum keberangkatan ke Filipina untuk menjalani laga-laga fase grup.

‘Kemalangan’ Indonesia sebenarnya sudah terjadi beberapa bulan sebelumnya. Hasil undian fase grup menempatkan Andik Vermansah dkk di grup berat, bersama tuan rumah Filipina, serta dua negara lain yang pernah jadi juara: Thailand dan Singapura. Di grup yang lainnya berkumpul Malaysia, Myanmar, Kamboja, dan Vietnam.

Benar saja, Indonesia mengawali Piala AFF dengan kekalahan telak atas Thailand denan skor 2-4. Bahkan baru empat menit turnamen berlangsung gawang Indonesia sudah kebobolan. Di babak pertama Indonesia kalah dua gol.

Tapi justru pada laga itulah Indonesia menunjukkan senjata terbesarnya, yang kemudian terus ditunjukkan pada pertandingan-pertandingan selanjutnya. Senjata itu adalah mental dan semangat juang tinggi. Indonesia bisa menyamakan kedudukan 2-2, meski akhirnya kemasukan dua gol lainnya di 11 menit terakhir pertandingan.

Kekalahan atas Thailand sudah banyak diprediksikan ketika itu. Secara matematis peluang Indonesia lolos masih terbuka lebar jika bisa menang di laga kedua. Tapi meski sempat unggul dua kali, Indonesia kembali gagal menang pada matchday kedua. Duel dengan Filipina tuntas 2-2.

Mental dan semangat juang tinggi penggawa Indonesia kemudian muncul lagi di pertandingan hidup-mati dengan Singapura. Tertinggal lebih dulu di babak pertama, Andik dan Stefano Lilypali mencetak gol demi membalikkan keadaan. Sekali menang, sekali imbang, dan sekali kalah cukup meloloskan Indonesia dari fase grup.

Pertandingan semifinal mempertontonkan drama lain. Usai menang 2-1 di Pakansari, Indonesia sepertinya akan bisa melangkah ke final lantaran bisa unggul lebih dulu dalam lawatan ke Hanoi. Diserbu Vietnam tanpa henti di sepanjang pertandingan, Lilipaly justru mencuri gol lebih dulu yang sangat berbau keberuntungan itu. Indonesia sempat lengah karena Vietnam yang cuma bermain 10 orang bisa menyamakan skor dan malah membalikkan keadaan. Penalti Manahati Lestusen di perpanjangan waktu akhirnya mengantar Indonesia ke final untuk kali pertama dalam enam tahun.

Indonesia sudah melakukan yang terbaik yang bisa mereka lakukan saat bermain di kandang pada final pertama. Kemenangan 2-1 mungkin terlalu tipis, masih sangat riskan karena Thailand akan sangat trengginas di kandangnya. Tapi kemenangan itu menunjukkan hal lain yang jadi modal besar saat harus main di Rajamangala: bahwa tekad besar dan semangat juang luar biasa akan bisa menghadirkan keajaiban-keajaiban yang entah dari mana datangnya. Keajaiban-keajaiban yang sudah mengantar Indonesia sampai di sini.

Thailand yang bergitu perkasa di babak-babak sebelumnya terbukti bisa dikalahkan. Indonesia yang sama sekali tak diunggulkan justru bisa menjungkirbalikkan keraguan.

Malam nanti di Stadion Rajamangala, pada finalnya yang kelima, Timnas Indonesia akan mencoba dengan seluruh daya dan upaya untuk kembali menaklukkan Thailand. Membawa pulang piala yang sudah lama begitu diidam-idamkan.

Kalaupun hasilnya beda dari yang diharapkan. Rasanya kita tetap wajib berdiri dan memberi tepuk tangan pada Boaz Solossa, Andik Vermansyah, Hansamu Yama, Stefano Lilipaly, Fachruddin, Kurnia Meiga, Rizky Pora, dan seluruh penggawa Timnas Indonesia atas perjuangan hebat yang sudah ditunjukkan. Karena mereka telah berjuang dalam keterbatasan dan menunjukkan kalau keterbatasan bukanlah halangan.

Garuda Bisa Menang!

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply