Kunci sukses Real Madrid pada Gelandang bertahan

Saat ini sektor penyerangan bukan menjadi masalah ketika Madrid memiliki Karim Benzema, Gareth Bale, Cristiano Ronaldo (ketiganya biasa disebut ‘trio BBC’), Alvaro Morata, Lucas Vázquez, dan Marco Asensio yang sangat menjanjikan.

Namun, masalah sesungguhnya bagi Madrid ada pada cara mereka bertahan. Semua pemain depan yang disebutkan di atas bisa dikatakan sebagai pemain yang tidak efektif ketika bertahan.

Hal ini bisa terlupakan karena penyerangan Madrid yang komplet di mana Modric dan Kroos bisa membantu mengalirkan bola maupun langsung mengancam gawang lawan, sementara kedua bek sayap mereka, biasanya Marcelo dan Dani Carvajal, menciptakan penyerangan yang lebih lebar dengan melakukan overlap.

Kapten Sergio Ramos pun tidak ragu untuk berkali-kali membantu timnya ketika menyerang. Tidak heran Ramos menjadi salah satu bek tengah yang paling produktif dengan 59 gol yang sudah ia cetak sejak 2005 bersama Madrid di berbagai ajang.

Semua hal di atas yang membuat kita semua melupakan pertahanan. Real Madrid biasanya tidak terlalu kerepotan karena mereka begitu mendominasi permainan (kecuali saat menghadapi Barcelona). Sehingga taktik ketika bertahan harus mulai dipikirkan secara matang oleh Zidane.

Dengan kata lain, Penyerang Real Madrid termasuk penyerang yang sangat ditakutkan. Tetapi kelemahaan pada waktu itu adalah pada sisi pertahanan. Sekarang ini kelemahaan sudah diperbaiki oleh Zidane. Sebenarnya ada satu kata, atau tepatnya satu pemain, yang benar-benar merefleksikan pertahanan Real Madrid. Pemain tersebut adalah Casemiro.

Pemain asal Brasil ini ditugaskan oleh Zidane untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh, umumnya, para gelandang Real Madrid yang hobi “bertualang” ke depan. Kenyataan bahwa Real masih juga belum membeli gelandang bertahan yang baru, baik dengan maksud menjadi pemain inti atau menyediakan kompetisi untuk Casemiro, adalah sebuah keheranan.

Zidane pasti akan sangat kerepotan jika Casemiro cedera, terkena akumulasi, atau berhasil dimatikan oleh lawan. Sebagai manajer yang juga mantan pemain kelas dunia, Zidane pasti sudah sadar akan hal ini.

Jika kita lihat lagi, Kroos bisa saja memainkan peran sebagai gelandang bertahan. Namun ia lebih condong kepada deep-lying playmaker alih-alih ball-winning midfielder seperti Casemiro. Dengan kecondongan ini, Kroos bisa dengan mudahnya dieksploitasi oleh kecepatan dan fisik lawan.

50 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply