Kisah Maldini Pali dan Yogi di Akademi Leicester City

Euforia juara yang tengah menghinggapi Leicester City turut dirasakan Maldini Pali dan Yogi Rahadian. Pasalnya, kedua pemain muda potensial Tanah Air itu pernah mencicipi akademi sepak bola The Foxes.

Ya, Maldini dan Yogi pernah mengenyam ilmu di akademi Leicester pada 2011 lewat program seleksi dari Indonesia Football Academy (IFA). Meski hanya mengecap pelatihan selama dua bulan di Tanah Britania, banyak kisah manis yang membekas bagi keduanya.

Maldini, yang kini bermain untuk PSM Makassar tak pernah melupakan momen saat tampil di kompetisi antarakademi Liga Inggris. Ia pernah dipercaya tampil sebagai pemain inti dan menyumbangkan satu assist ke gawang Akademi Birmingham.

“Assist itu menjadi gol perdana Leicester ke gawang Birmingham. Sayang, kami akhirnya kalah 3-4 dari mereka,” kata Maldini yang dihubungi CNNIndonesia dari Jakarta, belum lama ini.

“Itu menjadi momen terindah tidak pernah saya lupakan, apalagi tak pernah menduga kalau mereka bisa juara Liga Inggris sekarang,” kata Maldini.

Seperti pesepak bola muda Indonesia pada umumnya, Maldini sempat mengalami homesick alias teramat rindu dengan keluarga. Namun, kendala tersebut sirna dalam dua pekan.

Cerita yang tak kalah seru adalah berlatih bersama tim utama Leicester. Bahkan, Maldini tak menyangka jika Drinkwater, pemain muda Leicester saat itu masuk dalam skuat inti tim asuhan Claudio Ranieri.

“Kami pernah berlatih dengan tim senior Leicester. Sekarang mereka banyak dihuni pemain baru, tapi yang paling saya ingat adalah (Danny) Drinkwater. Enggak nyangka kalau dia saat ini masuk tim utama dan tercatat sebagai juara,” ungkap pemain kelahiran Mamuju 21 Silam itu.

Fasilitas Mewah

Sementara Yogi, terkagum dengan fasilitas yang dimiliki Leicester, Meski kala itu masih berada di Divisi Championship atau setingkat di bawah Liga Primer, klub berjuluk Si Rubah itu punya fasilitas penunjang yang lengkap.

Tidak hanya tersedia banyak lapangan, Leicester memiliki ruangan khusus untuk melakukan kegiatan gym.

“Tim level Championship saja sudah punya fasilitas yang sangat lengkap dan mewah. Bagaimana dengan klub-klub besar? Mungkin itu yang membuat sepak bola Inggris lebih maju,” kata Yogi.

Kisah tak terlupakan Yogi adalah ketika makan bersama manajer Leicester kala itu, Sven-Goran Ericksson, dalam satu meja besar. Namun, ia tak punya keberanian untuk berbincang dengan pelatih asal Swedia itu.

“Saya nggak berani karena tidak bisa berbahasa Inggris juga pada waktu itu,” ungkapnya.

Pemain sayap Mitra Kukar itu tak heran jika para pemain akademi di klub-klub Liga Inggris berpeluang menjadi pemain top di Eropa. Sebab, ia menyaksikan langsung bagaimana proses pembinaan terukur sejak usia dini.

“Anak-anak kecil sudah punya bekal teknik yang bagus. Meski masih belia, tendangan mereka sudah akurat. Jarang yang meleset, beda dengan kita,” ujar Yogi sambil tertawa

47 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply