Kepergian Foe menjadi duka di Piala Konfederasi

Selain mundurnya Jerman, perhelatan Piala Konfederasi 2003 menjadi penyelenggaraan paling getir. Sebab pada saat itu, Kamerun harus kehilangan salah satu penggawanya, Marc-Vivien Foe, yang meninggal karena serangan jantung. Foe sebelumnya kolaps di lapangan saat partai semi-final melawan Kolombia.

Mantan pemain Olympique Lyon itu sebenarnya sudah dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan lebih lanjut, sayang ia akhirnya mengembuskan nafas terakhirnya juga. Hal tersebut kemudian membuat para pemain Kamerun sangat terpukul meski mereka berhasil menembus partai final.

Duka mendalam nyatanya dirasakan pula oleh para penggawa Prancis yang menjadi lawan mereka di partai puncak. Laga pamungkas itu pun berlangsung dengan keharuan yang menelimuti kedua kesebelasan. Prancis, akhirnya keluar sebagai juara setelah memenangkan pertandingan dengan skor 1-0.

Saat seremoni juara, para pemain Prancis turut mengajak para pemain Kamerun untuk berdiri bersama di atas podium. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk solidaritas mereka kepada para pemain Kamerun yang baru saja kehilangan rekan satu timnya.

Pada tahun 2017 ini, Piala Konfederasi telah memasuki penyelenggaraan ke-10. Delapan tim ikut ambil bagian yang di antaranya adalah Rusia sebagai tuan rumah, Jerman selaku juara Piala Dunia 2014, Portugal Juara Piala Eropa 2016, Chile Juara Copa America 2015, Meksiko Juara Piala CONCACAF 2015, Selandia Baru Juara Piala Oseania 2016, Kamerun Juara Piala Afrika 2017, dan Australia juara Piala Asia 2015.

Dari delapan kontestan itu, tercatat tiga timnas yakni Portugal, Chile, dan Rusia merupakan debutan di Piala Konfederasi. Meski begitu, peluang ketiganya menjadi juara sangat terbuka, karena di ajang tersebut tidak ada mitos yang memberatkan para debutan untuk bisa mengangkat trofi Piala Konfederasi.

Hanya saja, mitos yang lebih berat akan membayangi mereka, andai bisa juara di Piala Konfederasi, dan lolos ke putaran final Piala Dunia. Sebab, ada fakta mengerikan yang menghantui pemegang gelar juara Piala Konfederasi dalam perjalanannya di Piala Dunia. Sejak tahun 1997, atau sejak Piala Raja Fahd berganti nama menjadi “Piala Konfederasi”, kesebelasan yang menjuarai turnamen tersebut selalu gagal di Piala Dunia berikutnya.

Brasil dan Prancis adalah dua tim yang benar-benar merasakan kutukan tersebut. Sebagai pemegang gelar terbanyak di Piala Konfederasi dengan empat gelar (1997, 2005, 2009, dan 2013) Brasil juga pernah empat kali gagal merengkuh trofi Piala Dunia tahun 1998, 2006, 2010, dan 2014. Sementara Prancis, setelah menjuarai Piala Konfederasi tahun 2001, mereka gagal total di Piala Dunia 2002.

Catatan menarik lainnya menghiasi Australia. Socceroos sebenarnya sudah tiga kali mengikuti Piala Konfederasi, tapi Piala Konfederasi 2017 ini adalah pertama kalinya bagi mereka untuk mewakili Asia (AFC) karena sebelumnya mereka mewakili Oseania.

Dengan Australia yang mewakili Asia ini, padahal secara geografis Australia adalah negara di Benua Australia, bukan Benua Asia, maka untuk pertama kalinya juga Piala Konfederasi tidak memiliki wakil yang “benar-benar dari Asia”.

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply