Jalan yang Tidak Diinginkan Spanyol

Spanyol tersingkir di babak 16 besar tentu di luar dugaan. Sebelumnya skuat berjuluk La Furia Roja tersebut merupakan kesebelasan favorit juara pada Piala Eropa 2016 ini. Terlebih dengan format Piala Eropa dengan 24 kesebelasan, Spanyol bisa jadi akan menghadapi lawan-lawan yang relatif lebih mudah di fase gugur.

Kendati begitu, jalan yang harus dilalui Spanyol ternyata lebih rumit karena tak sesuai rencana. Semua bermula dari kekalahan atas Kroasia pada laga terakhir Grup D. Skor akhir 2-1 untuk Kroasia membuat skuat asuhan Vicente Del Bosque ini harus puas menempati peringkat kedua grup.

Sebagai runner-up, Spanyol tergabung pada jalur yang teramat berat untuk menjadi juara. Di babak 16 besar, mereka harus menghadapi Italia yang menjadi juara Grup E. Jika mampu mengandaskan Italia, mereka akan menghadapi Jerman. Untuk melangkah ke final, di bagian lain, Prancis atau Inggris siap menjegal.

Lebih buruk, ternyata Spanyol tak mampu menang saat hadapi Italia. Spanyol harus mengemas koper lebih dini. Del Bosque tak kuasa menghadapi strategi Antonio Conte yang membuat Italia kuat dalam bertahan dan tajam dalam menyerang lewat formasi dasar 3-5-2.

Italia sendiri sebenarnya menjadi musuh yang paling ditakutkan Spanyol, bahkan meski pernah mereka kalahkan 4-0. Hal itu dikatakan langsung oleh mantan andalan timnas Spanyol yang bersinar bersama Barcelona, Xavi Hernandez. Menurutnya, Spanyol kewalahan menghadapi Italia yang sangat taktikal.

“Ketika Anda menghadapi tim dengan filosofi, karakter, dan daya saing, saya rasa Anda akan menjadi lawan terberat bagi Spanyol,” ujar Xavi pada Gazzetta dello Sport. “Dalam sejarahnya, Italia selalu menghadirkan daya saing yang luar biasa. Karena inilah Spanyol selalu takut menghadapi Italia.”

Apa yang dikatakan Xavi memang beralasan. Sebelum tahun 2008, Spanyol sulit mengalahkan Italia selama 88 tahun di segala turnamen resmi. Barulah pada 2008 Spanyol memasuki era baru dengan berhasil menjuarai Piala Eropa yang terakhir kali mereka raih tahun 1964, dengan mengalahkan Italia di final yang kala itu berstatus juara Piala Dunia.

Meski trofi Piala Eropa 2008 diraih bersama Luis Aragones, namun era baru Spanyol disebut-sebut menjadi milik Vicente Del Bosque. Mantan pelatih Real Madrid ini menggantikan Aragones usai Piala Eropa 2008, di mana kemudian mempersembahkan trofi Piala Dunia 2010 dan Piala Eropa 2012. Spanyol pun memasuki masa keemasan mereka di bawah tangan dingin Del Bosque.

Namun, usai menjuarai Piala Eropa 2012, Spanyol asuhan Del Bosque mulai tak bertaji. Jerman muncul sebagai perusak hegemoni Spanyol dalam empat tahun terakhir terhitung 2008. Bahkan di Piala Dunia 2014, Spanyol langsung tersingkir sejak fase grup karena hanya meraih satu kemenangan dan menempati peringkat ketiga Grup B, dikalahkan Cile dan Belanda.

39 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply