Formula Baru Rossoneri Bisa Tandingi Serangan Atraktif Nerazzurri

Internazionale Milan begitu superior ketika mengalahkan Cagliari dan Atalanta dengan skor besar. Tapi setelahnya Nerazzurri mendapatkan malapetaka pada tiga pertandingan Serie A secara beruntun. Dimulai dari berbagi angka dengan Torino, kemudian Inter dikalahkan Sampdoria dan Crotone. Tentu kekalahan itu menjadi ujian mental tersendiri bagi Inter jelang lawan AC Milan sebagai rival satu kotanya di Giuseppe Meazza, Sabtu (15/4/2017) .

Sementara Milan baru saja menorehkan kemenangan besar atas Palermo (4-0) pada laga teranyarnya di Serie A 2016/2017. Tentu perbedaan hasil mencolok itu semakin menjadi beban mental bagi Inter yang membutuhkan kembali kemenangan. Seharusnya Inter bisa meraup keinginannya itu pada laga nanti karena bisa tampil dengan skuat penuh. Roberto Gagliardini yang sebelumnya tidak bisa tampil melawan Crotone karena cedera pun sudah bisa dipasang kembali sebagai poros ganda pada formasi 4-2-3-1.

Situasi skuat Inter berbeda dengan Milan yang masih tidak bisa diperkuat Andrea Bertolacci, Giacomo Bonaventura, Ignazio Abate, dan Riccardo Montolivo karena cedera, serta Mario Pasalic terkena hukuman kartu. Tapi yang patut diwaspadai pada laga nanti adalah perubahan formasi Rossoneri dari 4-3-3 menjadi 4-2-3-1 sehingga menjadi lebih agresif. Kemenangan 4-0 atas Palermo pada pertandingan pekan lalu adalah salah satu buktinya.

Jadilah Inter Milan yang Biasanya

Salah satu upaya Inter agar bisa memenangi pertandingan nanti adalah harus tahu bahwa Milan dengan formasi 4-2-3-1 berbeda. Dengan formasi itu, Milan tidak tampil seperti pada formasi 4-3-3, yang lebih sabar merebut bola sehingga lawan bisa leluasa memainkan penguasaan bola. Kali ini Milan lebih agresif melancarkan pressing ketika lawan menguasai bola. Apalagi ditambah dengan disimpannya Mario Pasalic yang lebih ke depan. Tapi absennya Pasalic kemungkinan diganti Mati Fernandez yang akan berusaha menekan penguasaan bola poros ganda Inter nanti.

Beruntungnya Inter di bawah arahan Stefano Pioli bukanlah kesebelasan yang mengutamakan penguasaan bola. Mereka cenderung lebih melakukan serangan balik cepat melalui para pemain sayapnya setelah bola dimenangkan secepat mungkin, terutama dari lini tengah. Maka seyogyanya strategi yang biasanya diterapkan Pioli bisa mengatasi tekanan-tekanan Milan yang berkemungkinan lebih agresif pada laga nanti.

Jika melihat pertandingan Milan menghadapi Palermo, Inter wajib menghindari penguasaan bola terlalu lama. Lebih baik menjalankan strategi seperti biasanya dengan serangan cepat walau belum merasakan kemenangan dari tiga pertandingan sebelumnya. Kembalinya Gagliardini pun semakin menunjang Inter melalui serangan-serangan cepat. Ia akan menjadi pemain yang cocok untuk berduel dengan Pulisic dan menjadi penentu awal serangan Inter.

Penjagaan Khusus untuk Gerard Deulofeu

Formasi 4-2-3-1 Milan membuat Gerard Deulofeu semakin kontributif bagi kesebelasannya dalam serangan maupun bertahan. Formasi itu membuat Deulofeu memiliki jarak yang lebih dekat untuk bertahan membantu poros ganda dan full-back kiri. Begitu pun ketika menyerang, Deulofeu lebih memiliki keleluasaan. Ia bisa bergerak lebih dalam dan ke tengah untuk menjadi motor pertama serangan. Apalagi Deulofeu dilengkapi dengan kemampuan operan yang baik.

Buktinya, Deulofeu merupakan pemain kedua terbanyak melepaskan umpan kunci di Milan saat ini — umpan kuncinya cuma kalah dari Bonaventura. Pemain asal Spanyol itu melakukan dua operan kunci per laga sebanyak dua kali di setiap pertandingannya. Padahal Deulofeu baru didatangkan Milan pada bursa transfer Januari lalu. Maka dari itulah Vincenzo Montella, pelatih Milan, percaya bahwa Deulofeu bisa menggantikan peran Bonaventura dengan sama baiknya.

Perkembangan Deulofeu wajib diperhatikan Inter pada laga nanti. Apalagi full-back kanan Inter yang biasa dilakoni Danilo D’Ambrosio, memiliki agresivitas menyerang lebih tinggi ketimbang sisi kiri. Tidak hanya D’Ambrosio, poros ganda Inter pun harus sadar pergerakan Deulofeu jika menuju area depan kotak penalti. Sebab dari sanalah mantan pemain Everton itu bisa melepaskan umpan-umpan terobosan yang mematikan. Maka Inter saat ini harus lebih memperhatikan area depan kotak penaltinya pada laga nanti.

AC Milan Bisa Manfaatkan Sepakan Jarak Jauh

Entah mengapa Samir Handanovic cenderung lemah mengantisipasi tendangan-tendangan jarak jauh pada musim ini. Ketika Inter dikalahkan AS Roma pun dua bola bersarang di gawang Handanovic dihasilkan dari tendangan jarak jauh. Maka dari itu mengapa Inter perlu diwanti-wanti soal penjagaan di area depan kotak penalti karena menghindari Milan melepaskan tendangan jarak jauh. Sebab Deulofeu dan Suso yang memiliki tendangan jarak jauh terbaik di Milan, cenderung dimainkan pada laga nanti.

Apalagi jika mengingat formasi 4-2-3-1 membuat kedua winger itu bisa semakin leluasa masuk ke tengah dan melepaskan sepakan jarak jauh. Diyakini Deulofeu dan Suso bisa memanfaatkan area depan kotak penalti karena begitu mobilitasnya poros ganda Inter dalam mencari bola dan membangun serangan. Sebab keterlambatan transisi bertahan poros ganda merupakan salah satu kelemahan Inter. Baik Geoffrey Kondogbia, Marcelo Brozovic atau Gagliardini, sama-sama tidak terlalu memiliki transisi bertahan yang baik.

Tapi setidaknya Gagliardini lebih memiliki kecepatan melakukan transisi bertahan. Hanya saja ia sering terlihat malas bergerak ketika kehilangan bola. Sebetulnya ada baiknya Inter memasangkan Gagliardini dengan Gary Medel pada laga nanti, karena insting bertahannya. Tapi Pioli sepertinya akan menjadikan Medel bek tengah kembali pada laga nanti karena ketika Jeison Murillo tampil banyak melakukan kesalahan pada laga sebelumnya. Tentu ketiadaan Medel yang bernaluri lebih bertahan di depan kotak penalti (sebagai poros ganda) akan lebih mengurangi risiko sepakan jarak jauh. Medel yang menjadi bek tangah akan membuat Milan lebih leluasa melepaskan tembakan jarak jauh.

Koordinasi Pertahanan Inter Milan Sedang Buruk

Tiga laga belum merasakan kemenangan dan kebobolan enam gol sudah cukup membuktikan lini pertahanan Inter sedang tidak beres. Dugaan itu disorot kepada buruknya kordinasi pertahanan Inter dalam beberapa laga terakhir. Salah satunya seperti D’Ambrosio yang sering terlambat melakukan transisi bertahan di sisi kanan. Hal itu yang sering membuatnya kesulitan mengejar lawan yang melancarkan serangan balik. Apalagi ketika menghadapi lawan yang menginstruksikan penyerang tengahnya bergerak melebar.

Pada laga nanti pun D’Ambrosio harus mewaspadai agresivitas Matta De Sciglio, full-back kiri Milan, yang sering naik membantu serangan dan pergerkan melebar Deulofeu. Hal itu belum dihitung jika Carlos Bacca yang menjadi ujung tombak juga bergerak melebar. Tapi pada formasi 4-2-3-1 Milan sejauh ini, pergerakan Bacca hanya seputar di area tengah kotak penalti saja. Selain itu, kesalahan-kesalahan individual pemain belakang Inter sering diperlihatkan dalam beberapa laga terakhir ini.

Maka dari itulah mengapa Medel lebih ideal ditempatkan sebagai gelandang bertahan pada poros ganda Inter nanti. Medel terkadang lupa bahwa nalurinya sebagai gelandang bertahan justru dipakai ketika menjadi bek tengah. Salah satunya yaitu upaya tekel terburu-burunya dilakukan di kotak penaltinya sendiri. Tentu hal itu bisa merugikan bagi kesebelasannya seperti pelanggarannya memberikan penalti ketika dikalahkan Roma. Dan terkadang pun Medel sering terpancing pergerakan penyerang lawan yang bergerak lebih ke bawah. Otomatis pergerakannya itu bisa menciptakan celah di garis pertahanan Inter.

Kesimpulan

Formasi 4-2-3-1 yang diusung Milan saat ini lebih memberikan formulasi baru dalam serangannya. Sebab pada laga-laga sebelumnya ketika masih menggunakan formasi 4-3-3, Milan cenderung menang dengan perbedaan satu angka dengan lawannya. Dipastikan formasi dan gaya baru permainan Milan akan membuat pertandingan menarik berisikan saling jual beli serangan. Apalagi jika mengingat strategi Inter bersama Pioli sangat atraktif dan agresif ketika melancarkan serangan.

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply