‘Bukan Cuma #Edyout, PSSI Harus Potong Satu Generasi Pengurus’

‘Bukan Cuma #Edyout, PSSI Harus Potong Satu Generasi Pengurus’

Kegagalan Timnas Indonesia di Piala AFF 2018 memantik reaksi keras. Tidak hanya Edy Rahmayadi yang harus out, tetapi PSSI wajib memotong satu generasi pengurus.

Indonesia dipastikan tersingkir di Piala AFF 2018. Skuat Garuda hanya mengantongi empat poin dari dua kali kalah, satu kali menang dan imbang.

Hasil buruk timnas di Piala AFF 2018 bukan yang pertama kali. Indonesia memang tak pernah juara di turnamen sepakbola dua tahunan itu sejak keikutsertaannya, yang dulu kalanya bernama Piala Tiger.

Tapi, proses menuju Piala AFF 2018 menjadi sorotan. Keseriusan PSSI menghadapi pesta sepakbola negara-negara Asia Tenggara itu dipertanyakan.

PSSI dinilai tak memiliki rencana jangka panjang untuk Timnas. Setelah Timnas U-23 di Asian Games 2018 usai, PSSI tak menyambut Piala AFF yang dimainkan oleh timnas senior.

Sudah habis kas untuk membayar gaji Luis Milla–yang sempat menunggak–, PSSI menunjuk asistennya Bima Sakti, yang masih minim pengalaman hanya beberapa hari sebelum event dimulai, Kompetisi juga tetap bergulilr saat Timnas bertanding. Laga away pun tak diantisipasi sehingga pemain tak siap dengan perjalanan yang harus dihadapi.

Di tengah kegagalan Timans Indonesia itu, kasus pengaturan skor di liga mencuat. Keinginan revolusi di tubuh PSSI pun muncul. Termasuk penggantian Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi, lewat aksi #EdyOut yang digaungkan melalui media masa ataupun spanduk di laga-laga Timnas. Tak cuma menjadi perhatian media lokal, aksi itu pun menjadi makanan empuk media asing.

Pemerhati sepakbola, Akmal Marhali, menilai kepengurusan PSSI harus dirombak total. Sudah puluhan tahun, pengurus PSSI dipenuhi muka-muka lama, tapi minim menghasilkan prestasi.

“PSSI harus direformasi. Bukan cuma Edy Rahmayadi semua pengurus PSSI yang tidak bekerja untuk prestasi sepakbola nasional, hanya mementingkan bisnis dan kelompok harus mundur,” ujar Akmal kepada detikSport, Senin (26/11/2018).

“PSSI harus potong satu generasi. Sejauh ini pengurus PSSI ya itu-itu saja dan terbukti gagal. Selain prestasi timnas jeblok, kompetisi pun bobrok karena juara, promosi dan degradasi sudah diatur sebelum pertandingan,”

Menurut Akmal keinginan masyarakat mereformasi PSSI sejak lama tak berjalan sempurna. Masih banyak masalah-masalah di tubuh organisasi sepakbola Indonesia itu.

“Pengaturan juara, promosi terlihat kasatmata. Revolusi harus dilakukan PSSI. Pemerintah harus turun tangan. Penyakit match fixing sudah kronis dan pengurus PSSI tak ada upaya sama sekali untuk memeranginya,” dia menegaskan.

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply